Logo sentia white
Close

EKOSISTEM APLIKASI

Contact icon

Butuh solusi digital yang lebih spesifik?

Setiap bisnis punya tantangan unik — tim Sentia siap mendengarkan dan membantu Anda menemukan solusi terbaik.

SOLUSI BISNIS

Distribution icon
Principal icon
Retail icon
Logistic icon
Hospitality icon
Healthcare icon
Contact icon

Solusi Kami Tak Hanya untuk Industri Tertentu.

Setiap bisnis punya tantangan unik — dan Sentia siap menghadirkan solusi digital yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan Anda.

Agentic AI: Revolusi Berikutnya Setelah Generative AI yang Akan Mengubah Cara Perusahaan Bekerja

Blogs
Apakah ERP Masih Relevan di Era AI cover

Bagaimana pergeseran dari ‘System of Record’ menuju ‘System of Action’ mentransformasi fondasi efisiensi operasional bisnis modern di era 2026.

Bayangkan sebuah sistem enterprise yang tidak hanya menjawab pertanyaan atau membuat laporan, tetapi juga mampu menjalankan proses bisnis secara end-to-end. Mulai dari membantu proses penutupan laporan keuangan bulanan, menyesuaikan rencana supply chain ketika terjadi gangguan logistik, melakukan rekonsiliasi invoice, hingga membantu proses rekrutmen dan pengelolaan talenta. Semua dapat dilakukan secara otomatis dengan aturan, kontrol, dan audit trail yang jelas. 

Inilah yang dikenal sebagai Agentic AI.

Jika Generative AI (seperti ChatGPT atau LLM umum) diibaratkan sebagai asisten cerdas yang membantu manusia menganalisis informasi dan merangkai kata, maka Agentic AI memiliki kemampuan yang lebih jauh. Agentic AI dapat merencanakan langkah, mengambil keputusan berdasarkan tujuan dan aturan yang diberikan, lalu menjalankan tindakan melalui sistem yang terhubung.

Memasuki 2026, Agentic AI mulai bergerak dari sekadar teknologi yang diuji coba menuju teknologi yang semakin banyak dibicarakan untuk mendukung proses operasional perusahaan, baik secara global maupun di Indonesia.

1. Evolusi Paradigma: Generative AI vs Agentic AI

Banyak perusahaan mulai menyadari bahwa penggunaan Generative AI pada tahap awal lebih banyak membantu produktivitas individu. Misalnya, membantu karyawan menulis email, membuat presentasi, atau merangkum informasi dengan lebih cepat.

Namun, manfaat tersebut belum tentu mengubah cara proses bisnis berjalan secara menyeluruh. Agentic AI hadir untuk memperluas peran AI dari sekadar membantu pekerjaan individu menjadi bagian dari proses dan workflow bisnis secara end-to-end.

Dimensi EvaluasiGenerative AI (Copilot Model)Agentic AI (Autonomous Model)
Peran UtamaAsisten / Penasihat (Human-in-the-loop interaktif)Manajer Eksekutif Digital (AutonomousExecution)
Mode OperasiPrompt and Response (Tergantung arahan pengguna)Goal-Driven (Menerima tujuan bisnis &mengeksekusi)
Cakupan KerjaTugas individual, sintesis teks, ideasi kontenSiklus alur kerja end-to-end melintasiberbagai sistem
Interaksi SistemMembaca data / membuat draf dokumenMengakses API, melakukan transaksi,update database

2. Anatomi & Arsitektur Agentic AI: Bagaimana Cara Kerjanya?

Berbeda dengan automation berbasis aturan seperti RPA yang bekerja berdasarkan instruksi yang sudah ditentukan. Sistem ini bekerja melalui 5 pilar fungsional utama:

1. Memahami Goal & Konteks Bisnis (Contextual Perception)

Agent tidak hanya membaca prompt, tetapi memetakan Key Performance Indicators (KPI) dan batasan kebijakan perusahaan (business logic) yang relevan.

Misalnya, ketika diminta menjaga ketersediaan inventory, agent perlu memahami target stok, kondisi permintaan, lead time supplier, hingga batas biaya yang telah ditentukan.

2. Menyusun Rencana dan Langkah Kerja (Multi-Step Reasoning & Planning)

Setelah memahami tujuan, agent dapat memecahnya menjadi beberapa langkah yang lebih kecil dan menentukan urutan tindakan yang perlu dilakukan.

Contohnya, untuk mengatasi risiko stockout, agent dapat mulai dari memeriksa inventory, menganalisis demand, mengecek pesanan yang sedang berjalan, lalu mengevaluasi pilihan replenishment.

3. Pengambilan Keputusan Real-Time (Dynamic Decisioning)

Agent dapat menggunakan data operasional yang tersedia untuk membandingkan beberapa pilihan dan menentukan tindakan yang paling sesuai dengan tujuan serta aturan bisnis.

Karena keputusan dapat dibuat berdasarkan kondisi terbaru, respons sistem tidak harus selalu mengikuti skenario yang sudah ditentukan sebelumnya.

4. Menjalankan Tindakan di Berbagai Sistem (Cross-System Tool Execution)

Kemampuan Agentic AI tidak berhenti pada memberikan rekomendasi. Dengan integrasi dan akses yang sesuai, agent dapat menjalankan tindakan pada sistem yang digunakan perusahaan, seperti ERP, CRM, WMS, TMS, atau sistem finance.

Misalnya, setelah menemukan kebutuhan replenishment yang sesuai dengan aturan perusahaan, agent dapat membuat purchase request atau meneruskan proses tersebut kepada pihak yang berwenang untuk approval.

5. Mengevaluasi Hasil dengan Tetap Mengikuti Aturan (Self-Reflection & Governance)

Setelah tindakan dilakukan, agent dapat memantau hasilnya dan menentukan apakah tujuan yang ditetapkan sudah tercapai atau membutuhkan tindakan lanjutan.

Namun, kemampuan untuk bertindak secara mandiri tetap harus dibatasi oleh guardrails atau aturan pengaman. Perusahaan perlu menentukan tindakan apa yang boleh dilakukan agent secara otomatis, tindakan apa yang membutuhkan persetujuan manusia, serta kapan suatu kasus harus diteruskan kepada tim terkait.

Dengan pendekatan ini, Agentic AI bukan berarti memberikan kebebasan penuh kepada AI. Semakin besar kemampuan agent untuk bertindak, semakin penting pula kontrol, keamanan, dan pengawasan yang diterapkan.

3. Matriks Dampak Strategis di Berbagai Domain Bisnis

Implementasi Agentic AI dapat mengubah cara perusahaan menjalankan proses operasional, dari sistem yang hanya memproses informasi menjadi sistem yang mampu memahami kondisi, merespons perubahan, dan mengambil tindakan secara lebih mandiri.

Berikut adalah pemetaan implementasi dan dampak terukurnya:

Domain BisnisAplikasi Operasional Agentic AIDampak Strategis & Kuantitatif
Finance & AccountingAutonomous Financial Close: Rekonsiliasi transaksi otomatis, deteksi anomali fraud real-time, dan estimasi arus kas dinamis.Siklus closing 70% lebih cepatMenghilangkan eror manual pada rekonsiliasiantar entitas.
Supply Chain & LogistikDynamic Rerouting & Demand Sensing: Deteksi otomatis kemacetan pelabuhan, evaluasi ulang kriteria supplier dan penerbitan PO alternatif.Penurunan Stock-Out hingga 45%Respon krisis logistik berubah dari hitungan hari menjadi menit.
ProcurementAutonomous Sourcing: Analisis kontrak vendor, validasi harga pasar, pembuatan Purchase Order dan negosiasi syarat pembayaran standar. Efisiensi Biaya Sourcing 15-20%Meminimalkan pemborosan belanja non-kontrck (maverick spend).
Human ResourcesEnd-toEnd Matching: Penjadwalan onboarding otonom, pencocokan kompetensi internal untuk proyek strategis dan administrasi benefit.Time-to-Hire Turun 50%Menghilangkan eror manual pada rekonsiliasiantar entitas.
Customer CareAutonomous Incident Resolution: Penanganan klaim garansi kompleks, verifikasi latar belakang pelanggan dan penerbitan pengembalian dana (refund).First Contract Resolution 85+%Bebas eskalasi ke agen manusia berkurang drastis.

4. Tantangan Implementasi Agentic AI: Mengapa Fondasi Tetap Menjadi Kunci 

Meskipun Agentic AI menawarkan potensi efisiensi yang besar, penerapannya bukan sekadar memilih platform atau teknologi AI. Agent yang mampu mengambil tindakan membutuhkan fondasi data, sistem, dan tata kelola yang kuat. Tanpa fondasi tersebut, perusahaan justru dapat menghadapi risiko baru.

  • Silo Data & Kualitas Data Rendah: 

Agentic AI membutuhkan konsistensi data yang mutlak. Jika data masih tersebar di berbagai sistem yang tidak terhubung atau memiliki format yang berbeda, agent dapat memperoleh informasi yang tidak lengkap dan menghasilkan keputusan yang keliru. 

  • Risiko “Hallucination in Action”: 

Pada Generative AI, hallucination dapat menghasilkan informasi atau teks yang tidak benar. Pada Agentic AI, risikonya bisa menjadi lebih serius karena agent memiliki kemampuan untuk menjalankan tindakan berdasarkan informasi tersebut.

Bayangkan sebuah agent salah memahami data procurement dan kemudian membuat pesanan barang dalam jumlah besar. Kesalahan tersebut tidak lagi hanya menghasilkan jawaban yang salah, tetapi dapat menimbulkan dampak finansial dan operasional secara langsung.

  • Management & Trust Barrier:

Masih banyak karyawan yang belum sepenuhnya percaya pada keputusan yang dibuat oleh sistem otomatis, terutama ketika mereka tidak memahami bagaimana keputusan tersebut dibuat. 

Prinsip Utama: Human-in-the-Loop 

Penerapan Human-in-the-Loop (HITL), yaitu menempatkan manusia sebagai pengawas pada keputusan atau tindakan yang memiliki risiko tinggi. Sederhananya, perusahaan dapat menetapkan batas atau threshold berdasarkan tingkat risiko. Untuk tindakan berisiko rendah (misal: pendaftaran vendor standar), agent dapat berjalan otonom. Namun, untuk keputusan di atas ambang batas tertentu (misal: pengeluaran dana > Rp 100 juta), agent diwajibkan meminta konfirmasi persetujuan dari eksekutif manusia.

Apakah ERP Masih Relevan di Era AI content

5. Roadmap Praktis Bagi Perusahaan Indonesia

Untuk mengadopsi teknologi ini tanpa mengganggu stabilitas operasional yang sedang berjalan, langkah terstruktur berikut disarankan:

1. Identifikasi Proses yang Paling Membutuhkan Otomatisasi

Mulai dengan mencari proses yang memiliki volume transaksi tinggi, banyak pekerjaan manual, atau sering mengalami keterlambatan karena proses approval dan koordinasi antar tim. 

Fokus pada proses yang memiliki dampak bisnis jelas sehingga hasil penerapan AI dapat lebih mudah diukur.

2. Perkuat Data dan Integrasi Sistem

Pastikan sistem utama seperti ERP, CRM, WMS, dan sistem lainnya dapat saling terhubung dan menggunakan data yang konsisten.

Agent membutuhkan akses terhadap informasi yang lengkap dan akurat untuk dapat mengambil keputusan dengan baik.

3. Mulai dari Pilot Project yang terukur

Perusahaan dapat memulai dari satu subproses dengan tujuan dan indikator keberhasilan yang jelas (misal: otomatisasi pencocokan invoice di Accounts Payable).

Dari pilot tersebut, perusahaan dapat mengukur apakah AI benar-benar mampu menghemat waktu, mengurangi error, atau mempercepat proses.

4. Tetapkan Batasan dan Audit Trail

Tetapkan matriks otoritas keputusan agent serta pencatatan log tindakan secara komprehensif untuk kebutuhan kepatuhan audit internal/eksternal.

Dengan pendekatan bertahap ini, perusahaan dapat menguji manfaat Agentic AI tanpa harus mempertaruhkan stabilitas operasional yang sudah berjalan.

Tujuannya bukan membuat AI mengambil alih sebanyak mungkin pekerjaan, tetapi memastikan setiap tindakan yang didelegasikan kepada AI benar-benar memberikan nilai bagi bisnis.

Kesimpulan: Dari System of Record Menuju System of Action 

Selama bertahun-tahun, sistem enterprise seperti ERP berperan sebagai System of Record, yaitu tempat perusahaan menyimpan dan mencatat berbagai aktivitas bisnis yang telah terjadi. Agentic AI membuka peluang untuk membawa sistem tersebut ke tahap berikutnya. Action—sistem yang tidak hanya mencatat data, tetapi secara aktif menganalisis, merekomendasikan, dan mengeksekusi optimasi bisnis secara real-time.

Perusahaan yang berhasil menata ekosistem aplikasi dan kebersihan datanya hari ini adalah pihak yang paling siap memenangkan kompetisi industri di era enterprise otonom.

Apakah ERP Masih Relevan di Era AI closing